Jangan pindah kuadran tanpa persiapan matang

Jangan pindah kuadran tanpa persiapan matang

posted in: Tips | 2

Mengapa mesti pindah kuadran bila sudah nyaman?

Anda jangan melakukan pindah kuadran, apabila tanpa persiapan matang. Yang dimaksud pindah kuadran adalah perpindahan profesi, dari Karyawan menjadi Wirausahawan. Pergantian profesi tersebut, terkait erat dengan perbedaan sumber penghasilan utama. Penulis akan sharing pengalaman saat pindah kuadran di tahun 2001. Saat ini (tahun 2017) penulis sudah berusia 61 tahun.

Sharing dimulai dengan kilas balik ke tahun 1998. Pada tahun tersebut, penulis sudah menetapkan rencana besar untuk merubah total kehidupan pada tahun 2001. Paket rencana ambisius tersebut adalah:

  • Mengajukan surat pengunduran diri (resign) sebagai karyawan.
  • Menyiapkan mental pribadi untuk pindah kuadran (alih profesi), dari Karyawan menjadi Wirausahawan.
  • Mendirikan usaha bisnis untuk menggapai bebas finansial, yakni memperoleh penghasilan dari passive income.
  • Membuat persiapan pindah domisili keluarga, dari Jakarta pindah ke Yogyakarta.

Penulis menetapkan rencana tersebut justru pada saat sedang di puncak karir. Penulis menjabat sebagai Finance Manager perusahaan jasa konstruksi papan atas di Jakarta.

Jangan pindah kuadran tanpa persiapan matang
Jangan pindah kuadran tanpa persiapan matang

Adapun latar belakang rencana pindah kuadran, antara lain :

1. Penulis membutuhkan kebebasan jiwa. Kebebasan untuk mempunyai kendali atas kehidupan pribadi. Kebebasan dan ikhlas dalam berkarya. Penulis ingin mengaktualisasikan jati diri sebagai manusia. Manusia yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat.
Penulis sulit mengaktualisasikan impian tersebut apabila masih bersatatus karyawan, Sebagai karyawan, penulis harus mematuhi sistem dan peraturan yang ditetapkan oleh Perusahaan. Peraturan yang memang harus ada dalam sistem sebuah Perusahaan.

2. Penulis ingin mengikuti falsafah hidup yang ditinggalkan almarhum ayah. Ayah sudah memberi teladan ketika menjalani kehidupan, Falsafah dan keteladanan hidup yang berlandaskan semangat melayani dan berbagi kepada sesama.
Sepanjang hidupnya beliau konsisten menerapkan falsafah tersebut. Beliau selalu menjadi panutan dalam menjalankan perahu rumah tangga. Beliau selalu menghormati kepada semua orang.

3. Penulis tidak mau mengalami post power syndrome di saat memasuki usia pensiun. Penulis berusia 45 tahun di saat resign. Penulis menyadari, bahwa 10 tahun lagi akan pensiun. Hal ini membuat hati selalu kuatir dan tidak nyaman. Penulis mendambakan pensiun yang nyaman dan bahagia bersama keluarga. Menikmati masa pensiun dengan kondisi bebas finansial.

4. Penulis ingin meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga. Yaitu mempunyai banyak waktu untuk keluarga. Penulis merasa bersalah (guilty feeling) kepada isteri dan anak-anak. Penulis sering mengesampingkan keharmonisan keluarga. Penulis justru lebih mementingkan eksistensi karir individu.
Penulis sering mengatakan kepada isteri, bahwa ”Saya bekerja untuk keluarga”, Kalimat alasan tersebut rasanya terlalu naif. Realitasnya, penulis sering tidak hadir ketika keluarga membutuhkan eksistensi sebagai kepala keluarga. Karena asset paling berharga yang bernama “waktu”, sudah penulis gadaikan ke perusahaan tempat bekerja.

Apa saja yang disiapkan saat pindah kuadran?

Faktor-faktor penting yang diperlukan saat pindah kuadran diikhtisarkan sebagai berikut:

  • Anda harus bisa merubah mindset atau cara berpikir. Tugas utama wirausahawan adalah melayani semua stake holders. Semua problem perusahaan bermuara ke anda. Dan semua problem bisnis harus diselesaikan oleh anda. Anda harus memiliki karakter solutif dan kreatif.
  • Bangun karakter leadership anda. Karena anda menjadi puncak pimpinan perusahaan. Tugas anda mengarahkan karyawan agar dapat mencapai semua tujuan perusahaan. Seorang leader harus bisa mengayomi, memberi teladan, memotivasi, bijaksana, serta tegas dalam mengambil keputusan.
  • Siapkan mental anda dan keluarga dengan baik. Anda akan mengalami goncangan kehidupan rumah tangga. Ini akibat perubahan penghasilan keluarga. Ketika masih Karyawan selalu menerima gaji pada tanggal tertentu. Gaji dengan jumlah yang pasti. Jumlah yang bisa diprediksi dan membuat hati merasa aman. Tiba-tiba jumlah gaji yang selalu pasti diterima tersebut tidak ada lagi. Diganti dengan penghasilan, yang jumlahnya tidak pasti, dari usaha bisnis yang masih dirintis.
  • Hidup sederhana saat merintis bisnis. Turunkan gaya hidup anda, agar biaya hidup bisa minimalis. Dua tahun pertama merupakan masa prihatin dan menderita. Usaha bisnis masih mencari bentuk dan banyak kendala. Penghasilan dari usaha bisnis belum bisa menjadi cashflow keluarga.
  • Gunakan dana yang anda miliki dengan cerdas. Alokasikan dana secukupnya untuk modal kerja usaha bisnis. Bagi anda yang sudah menikah, siapkan dana untuk biaya hidup keluarga selama masih merintis bisnis. Proporsi alokasi dana, 30% untuk modal kerja, 70% untuk cadangan biaya hidup keluarga. Di saat merintis bisnis, anda memerlukan totalitas dukungan keluarga. Kondisikan keluarga merasa “aman” di sektor finansial.
  • Kondisi “ideal” pindah kuadran pada rentang usia 35-40 tahun. Pada rentang usia ini, biasanya Karyawan sudah menduduki posisi Managerial. Individu pada posisi Managerial pasti sudah memahami sistem dan prosedur suatu perusahaan. Sistem dan prosedur mutlak diperlukan ketika mengelola perusahaan milik sendiri.

Semoga artikel ini bisa menginspirasi para pembaca blog. Salam hangat dari Yogyakarta.

2 Responses

  1. sangat menginspirasi sekali..
    kalo boleh sharing bagaimana dengan yang wirausahawan yang ingin pindah ke kampung.. apakah sama yang harus dipersiapkan
    saya adalah seorang usahawan dari umur 32th dan saat ini umur saya 45th..
    saya berniat untuk mengajak istri dan anak untuk pindah dan tinggal di desa (pengennya juga di suatu desa dijogja) walaupun kampung tersebut bukan kampung halaman asal kami.
    saya berniat untuk menjual usaha saya (saat ini sudah kami coba tawarkan kebeberapa teman tp belom ada yang sanggup untuk take over) tapi planning kami adalah kalo seandainya tidak ada yang mau membeli usaha kami, rencananya akan kami berikan kepada orang yang kami percaya untuk mengelolanya.
    keinginan saya untuk pindah ke kampung sudah sangat kuat.
    mohon saran dan masukannya.
    terima kasih

    • @Eri: Terima kasih atas komentar dan apresiasinya.
      Artikel tsb merupakan sharing pengalaman pribadi penulis, yakni hijrah dari kota metropolitan ke kota yg lebih kecil, bahkan bisa disebut kampung.
      Persiapan yg diperlukan sama saja, terlebih persiapan untuk merubah ‘mindset’ anggota keluarga.
      Untuk sharing lebih lanjut, silakan kirim email ke betigaklaten@yahoo.com
      Terima kasih. Salam wirausaha Indonesia.

Leave a Reply